Putin Dikabarkan Pecat Ajudan Utama yang Ingin Akhiri Perang Ukraina, Kremlin Beri Penjelasan
Inews Batulicin- Isu besar tengah mengguncang lingkaran dalam Kremlin. Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan telah memecat salah satu ajudan utamanya yang selama ini dikenal menentang perang besar-besaran di Ukraina. Sosok tersebut adalah Dmitry Kozak, Wakil Kepala Staf Kepresidenan Rusia yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu tangan kanan Putin.
Kabar ini mencuat setelah sejumlah media Barat, termasuk Newsweek dan The New York Times, memberitakan bahwa Kozak didepak dari jabatannya lantaran perbedaan pandangan dengan Putin mengenai kebijakan invasi Rusia ke Ukraina. Kozak, yang memiliki latar belakang Ukraina, disebut-sebut selama ini berupaya mendorong jalur diplomasi, negosiasi perdamaian, dan penahanan agresi militer Rusia.
Namun Kremlin cepat merespons laporan tersebut. Melalui juru bicara Dmitry Peskov, Kremlin menyebut bahwa Kozak mengundurkan diri atas permintaan pribadi untuk mengejar kepentingan bisnisnya sendiri. “Kozak mengajukan permintaan tersebut untuk alasan pribadinya,” kata Peskov, dikutip media pemerintah Rusia RBC pada Jumat (19/9/2025).
Di sisi lain, lembaga kajian Amerika Institute for the Study of War (ISW) menilai kepergian Kozak bukan semata-mata keputusan pribadi. ISW menyebutkan bahwa pejabat senior Kremlin yang didukung Putin kemungkinan mendorong Kozak keluar setelah bertahun-tahun berselisih pandangan tentang perang Ukraina.

Baca Juga : Gereja Ortodoks Timur: Warisan Iman Kuno yang Tetap Hidup di Zaman Modern
Pada awal invasi 2022, Kozak disebut sebagai salah satu sosok yang berupaya menengahi kesepakatan Moskow–Kyiv yang akan membatasi langkah Ukraina menuju NATO. Namun kesepakatan ini dikabarkan ditolak oleh Putin karena ia berambisi mencaplok wilayah Ukraina secara lebih luas.
Laporan The New York Times pada Agustus 2025 juga memperkuat narasi ini. Media tersebut mengungkap bahwa pengaruh Kozak di Kremlin merosot drastis setelah ia mendesak Putin menghentikan pertempuran di Ukraina, memulai negosiasi damai, dan mengurangi peran badan keamanan Rusia. Pada bulan yang sama, Putin bahkan menandatangani dekrit yang menghapuskan dua departemen kepresidenan di bawah pengawasan Kozak – langkah yang dianggap sebagai persiapan untuk kepergian Kozak dari lingkaran dalam Kremlin.
Hilangnya Kozak dari Kremlin dipandang sebagai kemenangan bagi kelompok garis keras dan memperkuat posisi Sergei Kiriyenko, pejabat yang mengambil alih strategi Kremlin di Ukraina sejak 2022. Banyak analis menilai ini sebagai sinyal kuat bahwa Putin dan lingkaran terdekatnya semakin berkomitmen melanjutkan perang dengan agenda maksimalis.
Reaksi publik pun beragam. Olena Rohoza, pengguna X (Twitter) pro-Ukraina, menulis:
“Satu-satunya orang di lingkaran dalam Putin yang menentang perang telah meninggalkan Kremlin.” Sementara Leonid Volkov, tokoh oposisi Rusia, menegaskan: “Apakah kita harus mengangkat Kozak menjadi tokoh anti-perang? Dia 20 tahun membangun Putinisme dan 3,5 tahun membantu perang.”
Di sisi lain, situasi di Ukraina juga memperlihatkan semangat juang yang belum padam. Berdasarkan survei Kyiv International Institute of Sociology (KIIS) yang dilakukan pada 2–14 September 2025, 76 persen warga Ukraina yakin negaranya dapat menang jika mendapat dukungan Barat yang memadai. Sebanyak 75 persen responden juga menolak mentah-mentah proposal perdamaian Moskow yang menuntut penarikan pasukan Ukraina dari wilayah Donbas timur.
Kisah keluarnya Kozak dari Kremlin memperlihatkan bagaimana dinamika internal pemerintahan Putin terus berubah seiring perang berkepanjangan. Bagi para pengamat, ini adalah sinyal bahwa upaya negosiasi damai dari lingkaran dalam Kremlin semakin mengecil, dan jalur diplomasi mungkin akan semakin sulit ditempuh.
















