Masa Keemasan Pep Guardiola di Manchester City Mulai Redup?
Inews Batulicin- Nama Pep Guardiola identik dengan kesuksesan Manchester City. Sejak bergabung pada 2016, pelatih asal Spanyol ini telah membawa The Citizens menjuarai berbagai kompetisi, termasuk Premier League, Piala FA, hingga Liga Champions. Namun, suara-suara sumbang mulai muncul. Salah satunya datang dari mantan gelandang City, Dietmar Hamann, yang menilai era kejayaan Guardiola bersama City mungkin sudah berada di ujung jalan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5256884/original/015273900_1750287652-000_62W37YT.jpg)
Baca Juga : Baznas & KKSS Tanah Bumbu Gelar Khitanan Massal, Ribuan Warga Antusias
Hamann: “Guardiola Tidak Akan Menang Trofi Besar Lagi”
Dalam sebuah wawancara, Hamann secara terbuka menyebut Guardiola tak lagi memiliki “sentuhan emas” yang pernah membuat City tampil dominan. Ia menilai pola permainan City kini terlihat lebih kaku, kurang eksplosif, dan tidak semenarik beberapa musim lalu. Menurut Hamann, banyaknya pergantian pemain inti serta faktor kejenuhan di ruang ganti menjadi penyebab utama penurunan performa.
“Selama beberapa tahun terakhir mereka berubah banyak. Banyak pemain baru datang, tetapi juga ada pemain lama yang sudah kehilangan energi dan semangat. Itu tanda-tanda jelas, Guardiola mungkin akan meninggalkan tim dalam beberapa tahun mendatang,” ujarnya.
Kontrak Masih Panjang, Tapi Masa Depan Diragukan
Guardiola masih terikat kontrak hingga 2027. Namun, ia sempat memberi sinyal soal kemungkinan meninggalkan Etihad Stadium lebih cepat. Bagi Hamann, kontrak panjang itu lebih seperti formalitas untuk menjaga stabilitas tim ketimbang jaminan masa depan.
“Saya pikir kontraknya diperpanjang tahun lalu hanya untuk menenangkan publik, supaya orang tidak bertanya-tanya terus kapan dia pergi. Saya pribadi akan terkejut jika dia masih di sana dalam dua tahun ke depan,” katanya.
Awal Musim yang Goyah
Musim ini, Manchester City memulai langkahnya dengan tidak terlalu meyakinkan. Kekalahan dari Brighton dan Tottenham membuat posisi mereka di papan atas Premier League terguncang. Bagi Hamann, ini adalah tanda bahwa Guardiola kesulitan memompa kembali motivasi para pemainnya.
“Dia sudah lama di sana, dan saya tidak yakin dia masih punya energi untuk membangkitkan semangat mereka lagi,” kata Hamann. “Kalau bicara trofi besar, saya rasa dia tidak akan memenangkan Premier League atau Liga Champions lagi. Mungkin hanya piala domestik seperti Piala Liga atau Piala FA.”
Pembuktian di Derby Manchester
Pekan ini, City akan menghadapi Manchester United dalam Derby Manchester yang sarat gengsi. Pertandingan ini menjadi ujian penting bagi Guardiola untuk membuktikan bahwa kritik tersebut keliru. Tiga poin penuh bukan hanya berarti bagi klasemen, tetapi juga untuk mengembalikan kepercayaan diri pemain dan fans.
Jika berhasil menang, Guardiola setidaknya bisa menunjukkan bahwa ia masih punya daya magis yang mampu membawa City kembali ke jalur juara. Namun jika gagal, spekulasi soal berakhirnya era Guardiola di Etihad akan semakin menguat.
Era Guardiola Benar-Benar Berakhir?
Sejak datang ke Manchester City, Pep Guardiola telah menulis sejarah emas dengan gaya sepak bola menyerang yang menghibur. Namun setiap era memiliki ujungnya. Pertanyaannya, apakah ini hanya fase penurunan sesaat, atau benar-benar tanda berakhirnya masa kejayaan Pep Guardiola di City?
Jawaban itu mungkin akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan. Satu hal yang pasti, publik sepak bola Inggris kini menunggu apakah Guardiola bisa membungkam kritik dan kembali membawa Manchester City ke puncak kejayaan — atau justru mengakhiri kisahnya di Etihad Stadium lebih cepat dari yang diperkirakan.
















