Breaking News
Sajian informasi global yang menyajikan berita dari berbagai negara, mulai dari konflik, diplomasi, ekonomi dunia, hingga perkembangan budaya internasional.
Shoppe Mall
Shoppe Mall
Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Mossad Pilih Menahan Diri: Mengapa Operasi Darat di Qatar Dibatalkan?

cek disini

Tiga Alasan Utama Mossad Menolak Perintah Membunuh Pemimpin Hamas di Qatar

Inews Batulicin- Langkah Israel menyerang para pemimpin Hamas di Qatar baru-baru ini memunculkan kontroversi besar. Serangan udara yang diklaim menargetkan petinggi Hamas itu disebut gagal mencapai sasaran utamanya. Namun di balik layar, sebuah cerita menarik muncul: Mossad — badan intelijen terkenal Israel — ternyata menolak perintah untuk mengirim agen darat membunuh para pemimpin Hamas di Doha, ibu kota Qatar.

Laporan eksklusif The Washington Post mengungkapkan penolakan ini berasal dari pertimbangan strategis yang kompleks. Berikut tiga alasan utama mengapa Mossad memilih tidak menjalankan operasi tersebut.

Mossad Pilih Menahan Diri: Mengapa Operasi Darat di Qatar Dibatalkan?
Mossad Pilih Menahan Diri: Mengapa Operasi Darat di Qatar Dibatalkan?

Baca Juga : Juventus Menang Gila 4-3 atas Inter, Tudor: “Kami Belum Tampil Sempurna”


1. Menjaga Hubungan Strategis dengan Qatar

Kepala Mossad David Barnea dikabarkan menolak ide operasi darat karena khawatir akan merusak hubungan yang telah dibangun lembaganya dengan Qatar. Selama ini, Doha menjadi salah satu mediator paling penting dalam perundingan gencatan senjata dan pembebasan sandera antara Israel dan Hamas.

Bagi Mossad, Qatar bukan sekadar “wilayah musuh” melainkan pintu diplomasi yang krusial. Kehadiran pejabat Hamas di Doha memang membuat negara Teluk itu sering menuai kritik, tetapi justru posisi inilah yang membuat Qatar efektif sebagai mediator. Langkah gegabah di wilayah mereka berisiko mengakhiri saluran komunikasi yang sedang berlangsung dan mengacaukan upaya diplomasi yang telah lama dibangun.


2. Strategi Jangka Panjang: “Bukan Sekarang Waktunya”

Alasan kedua lebih bersifat taktis. Mossad menilai pembunuhan pejabat Hamas dapat dilakukan di waktu yang lebih tepat. Sumber yang mengetahui rencana itu mengatakan Mossad punya kemampuan untuk melacak dan menangkap target dalam satu, dua, bahkan empat tahun ke depan. Dengan kata lain, mereka tidak terburu-buru.

Sementara Israel mengklaim serangan udara di Doha dilakukan karena para pemimpin Hamas sedang berkumpul di satu lokasi, Mossad justru melihat risiko yang lebih besar daripada peluangnya. Qatar sendiri mengecam serangan itu sebagai bentuk “terorisme negara” dan pengkhianatan terhadap proses mediasi.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membela serangan udara tersebut, bahkan membandingkannya dengan tindakan Amerika Serikat terhadap Al Qaeda pasca-11 September. Namun para analis menilai Netanyahu mulai kehilangan kesabaran dengan proses negosiasi yang berjalan lambat.


3. Fokus Utama: Menyelamatkan Sandera

Alasan terakhir yang paling krusial adalah faktor sandera. Mossad khawatir operasi darat di Qatar akan mengacaukan perundingan pembebasan sandera yang tengah berlangsung. Seorang pejabat senior Israel mengatakan kepada Channel 12, mayoritas lembaga pertahanan merekomendasikan agar serangan ditunda.

“Posisinya jelas — ada kesepakatan pengembalian sandera di atas meja. Semua pihak memahami konsekuensi bagi para sandera. Operasi seperti ini pada saat ini bisa membahayakan kemungkinan tersebut,” ujar pejabat itu.

Akhirnya Israel memilih serangan udara, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Hamas menyatakan pemimpinnya di Qatar, Khalil al-Hayya, selamat dan bahkan memimpin pemakaman putranya yang tewas dalam serangan itu. Pernyataan ini menepis rumor awal bahwa al-Hayya ikut tewas.


Situasi yang Terus Berkembang

Serangan ke Doha memperburuk ketegangan antara Israel dan Qatar. Doha mengecam tindakan itu, sementara Israel membela diri dengan menuding Qatar sebagai penyedia “safe haven” bagi teroris. Namun di balik retorika panas ini, jelas bahwa ada perpecahan di dalam tubuh pemerintah Israel sendiri terkait cara terbaik menghadapi Hamas.

Penolakan Mossad menunjukkan bahwa meski terkenal dengan operasi-operasi rahasia yang berani, lembaga intelijen ini juga mempertimbangkan faktor diplomasi, waktu, dan keselamatan sandera. Dengan menunda operasi darat, Mossad seolah mengirim pesan: tak semua serangan harus dilakukan sekarang, dan terkadang kesabaran adalah strategi yang lebih efektif daripada aksi gegabah.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *